Kucing di Mesir

dari pembasmi hama hingga simbol perlindungan ilahi

Kucing di Mesir
I

Pernahkah kita menyadari betapa absurdnya hubungan kita dengan kucing peliharaan di rumah? Kita bangun pagi, membersihkan kotoran mereka, dan membelikan makanan yang kadang lebih mahal dari makan siang kita sendiri. Kita sering bercanda bahwa merekalah "majikan" dan kita hanyalah pelayannya. Namun, sejarah membuktikan bahwa lelucon ini sebenarnya sudah berusia ribuan tahun. Di Mesir Kuno, jika seekor kucing peliharaan mati, seluruh anggota keluarga akan mencukur alis mereka sebagai tanda duka cita yang mendalam. Terdengar berlebihan? Mungkin. Tapi mari kita bedah fenomena ini. Ada kisah psikologi, evolusi, dan biologi yang luar biasa di balik mengapa manusia begitu rela mengabdi pada makhluk berbulu ini. Mari kita selami bersama.

II

Semuanya tidak dimulai dari sihir atau ritual mistis, melainkan dari urusan perut dan ekologi. Sekitar 10.000 tahun yang lalu, nenek moyang kita mulai lelah nomaden. Kita mulai bertani dan membangun lumbung gandum. Masalahnya, di mana ada tumpukan gandum, di situ ada tikus. Dalam jumlah yang sangat masif. Di sinilah Felis silvestris lybica, nenek moyang kucing liar Afrika, masuk ke dalam panggung sejarah. Bagi mereka, lumbung gandum kita adalah prasmanan tikus all-you-can-eat. Bagi manusia, kehadiran kucing adalah sistem pembasmi hama gratis. Ahli biologi menyebut ini sebagai mutualisme simbiosis. Menariknya, kita sebenarnya tidak pernah menjinakkan kucing. Mereka yang "menjinakkan" diri mereka sendiri. Mereka beradaptasi untuk menoleransi kehadiran kita demi makanan, dan kita menoleransi mereka demi keamanan panen. Di tahap ini, hubungan kita dan kucing murni transaksional.

III

Namun, sebuah transaksi bisnis pembasmi hama tidak bisa menjelaskan mengapa orang rela mencukur alis saat kucing mati, bukan? Bagaimana seekor pemburu tikus jalanan bisa berubah posisi menjadi simbol pelindung yang suci? Di sinilah psikologi manusia mulai bermain. Kita, manusia, adalah makhluk pembuat cerita. Otak kita dirancang untuk mencari makna dan memproyeksikan sifat manusia pada hewan peliharaan kita—sebuah fenomena yang disebut antropomorfisme. Orang Mesir kuno mulai mengamati sifat ganda kucing. Di satu sisi, induk kucing adalah makhluk yang sangat lembut dan penuh kasih saat menyusui anak-anaknya. Di sisi lain, ia bisa berubah menjadi mesin pembunuh secepat kilat saat mencabik leher ular berbisa yang masuk ke dalam rumah. Lembut namun mematikan. Pengasuh sekaligus pelindung. Bagi masyarakat kuno, dualitas semacam itu hanya dimiliki oleh satu hal: dewa-dewi. Di sinilah muncul nama Bastet, dewi rumah, kesuburan, dan pelindung firaun yang digambarkan berkepala kucing. Tapi tunggu dulu, apakah orang Mesir benar-benar menyembah kucing layaknya Tuhan? Ataukah ada sebuah peretasan psikologis yang terjadi di otak mereka?

IV

Inilah realita ilmiah yang menjadi kejutan terbesarnya. Orang Mesir Kuno tidak menyembah kucing sebagai entitas pencipta alam semesta. Mereka memuja esensi ilahi yang diwakili oleh kucing tersebut. Secara psikologi evolusioner, hal ini sangat masuk akal. Secara naluriah, manusia purba terprogram untuk takut pada ular berbisa dan kalajengking, serta rentan terhadap penyakit dari tikus. Kucing menghilangkan semua ancaman mematikan itu di depan mata mereka. Mereka memberikan perlindungan biologis yang nyata. Selama berabad-abad, otak manusia yang mencintai metafora ini menerjemahkan "perlindungan biologis" menjadi "perlindungan ilahi". Ditambah lagi, kucing memiliki senjata biologis rahasia: baby schema. Wajah bulat dan mata besar mereka meretas saraf mamalia di otak kita, memicu pelepasan oksitosin dan memaksa kita untuk menyayangi mereka layaknya bayi manusia. Campuran antara rasa hormat pada predator yang tangguh dan insting merawat makhluk yang menggemaskan menciptakan ilusi psikologis yang sempurna. Kucing adalah "peretasan otak" paling sukses dalam sejarah manusia.

V

Pada akhirnya, apa yang bisa kita pelajari dari perjalanan kucing di tanah firaun ini? Kisah mereka sebenarnya adalah pantulan dari sejarah kelangsungan hidup kita sendiri. Cerita ini menunjukkan bagaimana kita bertahan hidup melalui kerja sama antar-spesies, dan bagaimana otak kita mengatasi rasa takut dengan menciptakan cerita-cerita yang indah. Kita mengubah hewan liar menjadi penjaga lumbung, lalu mengangkatnya menjadi representasi dewi, semata-mata karena kita butuh merasa aman di dunia yang berbahaya. Hari ini, Dewi Bastet mungkin hanya sekadar mitos di buku sejarah. Namun, coba teman-teman lihat kucing yang mungkin sedang tertidur di sofa rumah saat ini. Kita masih merasakan campuran aneh antara kasih sayang dan rasa hormat yang sama. Mereka mungkin tidak lagi melindungi gandum kita dari tikus lapar. Tapi di tengah dunia modern yang penuh tekanan ini, dengkuran mereka terbukti secara ilmiah mampu menurunkan stres dan melindungi kesehatan mental kita. Dan mungkin, di situlah letak perlindungan ilahi mereka yang sesungguhnya di masa kini.